23 Mar 2014

Sebaik-baik Rindu

Hari kamis malam adalah salah satu hari yang secara pribadi saya nanti-nantikan, betapa tidak, karena kamis malam saya punya agenda pengajian rutin bersama adik-adik mahasiswa P.Bio UNEJ. Pengajian mingguan rutin yang dulu (saat saya kuliah s1) juga saya alami, dipandu oleh mentor kakak2 kami kala itu. 

Bagi saya topik yang kami bahas minggu ini cukup menarik, sehingga saya rasa harus dibagi, setidaknya lewat tulisan di blog ini. Kemarin kami membahas tentang CINTA. Hahaha, ya tentang cinta. Tema klasik yang ternyata selalu mengasyikkan untuk dibahas dan dibicarakan lagi kemudian lagi dan lagi.

Cinta dengan beragam variannya, bagaimanapun telah mencatatkan eksistensinya dalam sejarah manusia. Sebuah esensi yang menyimpan energi mega dahsyat. Sebuah sesuatu yang bersemayam di dalamnya potensi perubahan, bahkan yang sangat radikal sekalipun. Dan sebuah kekuatan positif yang luar biasa jika ditempatkan dalam bingkai yang tepat. Betul saja Kudamah menyatakan bahwa "cinta mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin,
yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut
". Well, itulah cinta, saya sepakat.

ah, lalu apa hubungannya dengan kajian mingguan? adik-adik mahasiswa? disinilah yang menarik. Pengajian yang berawal formal kajian perlahan bergeser menjadi ajang curhat :). Ternyata bukan cuma saya yang galau gara-gara cinta, tapi banyak di antara adik-adik yang kemudian menyatakan kegalauannya terkait prahara cinta mereka masing-masing. Ini tentang cinta yang itu. Ya, cinta yang berdiri diantara dua insan berlainan jenis itu. 

(saya tidak mungkin bercerita tentang konten pembicaraan kami, itu rahasia, haha. So, langsung kesimpulannya saja ya)
Kesimpulannya, 
Jika anda punya pacar dan hanya sekedar pacar (tidak ada niatan untuk menikahinya), ya sudah putuskan saja, insyaAllah tidak ada hal baik yang bisa diambil darinya.
Jika ada punya pacar dan sangat serius untuk menikahinya kelak, saat semuanya telah siap, boleh lah dilanjutkan, dengan beberapa syarat, yaitu jangan melanggar rambu-rambu hubungan antara laki-laki dan perempuan. 

Coba renungkan ini: mana yang lebih baik, yang lebih positif?
  • Sejoli, laki-perempuan, selalu bersama, rentengan kemana-mana, atau dua insan yang cukup mengamati masing-masing dari kejauhan. Memintakan kabaikan satu sama lain, langsung kepada sang pemilik cinta.
  • Sejoli yang mengaku siap menerima kekurangan satu sama lain atas nama cinta, atau dua insan yang sama-sama berusaha mengaktualisasi potensi untuk memantaskan diri bagi pasangannya. 
  • Sejoli yang mengumbar kata-kata mesra ketika lama tak bersua, atau dua insan yang melantunkan doa dalam ridu mereka. 

Cinta adalah hal fitrah yang melekat erat pada diri manusia.
Jika hati adalah hardware, cintalah software yang diciptakan bersamanya.
Kita tidak boleh melawan cinta, tidak mampu. Maka kita hanya bisa membingkai cinta, mengelolanya sehingga menjadi kekuatan motivasi yang akan meledakkan potensi diri.
Sebaik-baik cinta adalah yang dihalalkan.
Sebaik-baik rindu adalah yang disebut dalam doa.
Salam super student.

Tidak ada komentar:

Copyright by Iqbal Ali. Diberdayakan oleh Blogger.